Mengapa Di Era Digital Tuntutan Sosial Makin Tidak Manusiawi?

Diera yang serba digital ini, banyak sekali perubahan gaya hidup yang terjadi antara dulu dan sekarang. Saat ini, segala bentuk pencapaian atau apresiasi dipublikasikan secara terbuka dan menjadi konsumsi publik. Disamping menjadi sebuah kemajuan dan kemudahan dalam mengakses informasi, era digital seperti ini juga membuat banyak tekanan sosial baru utamanya bagi para milenial.

Generasi milenial menjadi representasi dan objek utama dalam serangan era digital, sehingga membuat mereka memiliki tekanan dan tuntutan lingkungan. Standar pencapaian dan keberhasilan yang makin tinggi membuat mereka memiliki beban berat yang terkadang malah membuat stress. Dalam sebuah artikel terbitan Buzzfeed, Anne Helen Petersen menjelaskan bahwa generasi milenial yang lahir antara 1981 dan 1996 telah berubah menjadi ‘burnout generation’ atau disebut juga sebagai kelompok orang yang psikologisnya memiliki beban yang berat.

Baca juga : Mengulas Perbedaan Antara Permasalahan Dan Konflik Sosial Dalam Masyarakat

Petersen menjelaskan bahwa konsekuensi dari beban itu, tak hanya pada fisik namun juga menyerang pada mental. Penulis kolom budaya itu juga mengidentifikasi keadaan yang disebutnya sebagai paralysis singkat, yakni kondisi yang ditandai pergulatan hebat seseorang bahkan saat hanya mengerjakan hal simpel. Hal ini karena generasi milenial dituntut untuk melakukan segala sesuatu dengan sempurna tanpa cela. Oleh karena itu, tekanan sosial dan beban ini harus dibarengi dengan banyak proses healing dan relaksasi agar mental dan fisik generasi milenial tetap sehat. Diantara model yang menyebabkan kelelahan dan tekanan sosial ini ialah :

1. Tuntutan untuk selalu sempurna di semua bidang
Berdasarkan The Health of America Report, burnout adalah fenomena yang sedang menjamur dan sangat berdampak pada generasi milenial, terutama dalam hal kesehatan mental dan emosional mereka. Burn Out dipicu oleh standar yang harus dicapai apabila ingin dianggap capable dan layak dalam kehidupan. Hal ini memicu masalah mental seperti depresi. Bahkan, baik itu masalah finansial, media sosial, lingkungan kerja atau beban kerja yang berat, ada banyak faktor berbeda yang dapat menyebabkan tingkat stres, gangguan kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dihadapi oleh generasi milenial.

2. Teknologi yang Semakin Maju
Tuntutan sosial ini makin kentara seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin menuntut orang-orang untuk membuat branding dan eksistensi akan dirinya. Akibatnya, hampir segala aspek memiliki indikator sosialnya sendiri. Contohnya sederhana, seperti seseorang akan dianggap sukses oleh masyarakat ketika dia memiliki mobil yang mewah, rumah yang bagus dan penghasilan yang tinggi. Tentu indikator inilah yang sekarang menjadi ukuran utama dalam menentukan kesuksesan seseorang.

3. Framing Media
Media selalu menampilkan segala aspek menarik dan terbaik dari kalangan masyarakat. Segala representasi keberhasilan baik dari perspektif masyarakat, politik bahkan seni memiliki framing sempurna dimedia. Hal ini menuntut masyarakat biasa menjadi merasa harus memiliki standar yang sama dengan apa yang mereka lihat di media. Hal ini akan sangat menjadi masalah ketika, upaya untuk sesuai dengan apa yang dianggap berhasil oleh masyarakat gagal.

Segala hal diatas menjadi faktor utama yang menyebabkan tuntutan sosial makin terasa, utamanya untuk generasi yang lahir di tahun 90an. Mereka memiliki banyak media untuk menaikkan maupun menurunkan eksistensi. Oleh karena itu, generasi milenial harus mampu memilah dan memilih segala bentuk tuntutan sosial yang mereka dapatkan. Generasi muda harus mampu memprioritaskan dirinya sendiri dari pada tuntutan sosial yang semakin tidak manusiawi dan mengada-ngada.

Baca juga : Organisasi HFY Mengatasi Kesejahteraan Anak di Long Island USA